Monday, October 20, 2014

Fabel : Kesombongan Kadal Dalkijo (by Emil WE)


Antrean panjang terjadi di jalan utama di tengah hutan. Hewan-hewan sedang ingin membeli tiket pertunjukan sirkus dari hutan di negeri tetangga. Mereka berdesak-desakan. Antrean para hewan sudah meliuk panjang seperti bentuk tubuh ular raksasa. Tiba-tiba terdengar kegaduhan. Nampaknya, Dalkijo -Si Kadal, sedang bersitegang dengan Mumut -Si Semut.
"hei, Dalkijo, antre, dong ! Jangan main serobot gitu !! tempat itu milikki !!" si Mumut protes sebab antreannya diserobot kadal Dalkijo.
"huh ! aku lelah nunggu kamu. Bisa-bisa baru dapat tiket malam hari gara-gara nunggu kamu merayap. Ini sudah adil, Mumut. Hewan yang lambat harus memberi kesempatan kepada hewan yang lebih cepat,"
"eits ! Tidak bisa ! Semua hewan harus mendapatkan hak yang sama," Mumut protes. "tidak adil membuat pernyataan semacam itu," lanjutnya bersungut-sungut.
Kegaduhan itu berlangsung cukup lama. Hewan-hewan terpecah, sebab di satu sisi mereka mendukung pihak yang menguntungkan diri sendiri. Hewan-hewan yang memiliki kemampuan berjalan cepat mendukung kadal Dalkijo, sementara hewan-hewan kecil nan lambat mendukung semut Mumut. Tiba-tiba di saat Dalkijo dan Mumut bersitegang, Kurkur -Si Kura-kura tertawa terbahak-bahak.
"Hei-hei, para hewan sekalian. Untuk apa kalian bertengkar. Tujuan kita sama, untuk mendapat tiket pertunjukan sirkus. Aku punya ide."
"apa idemu, Kurkur ?" Dalkijo bertanya sambil mengerjap-ngerjap matanya.
"kita bagi saja antrean ini menjadi dua bagian. Hewan-hewan kecil di sisi kanan, kewan-hewan besar di sisi kiri. Biar lebih cepat, lebih aman. Kalian hewan kecil tidak akan terinjak hewan yang besar,"
"berarti aku termasuk hewan kecil, Dong ! Ah, aku tidak setuju ! Aku tidak ingin mengantri bersama hewan-hewan lambat. Bisa-bisa kakiku gemetaran menunggu semut, bekicot, siput, lipan," Dalkijo masih juga protes.
"harusnya tiket sirkus itu ditumpuk di atas batu, kemudian, siapa yang cepat, biar dia mengambil duluan, seperti lomba lari, hehehe .. Tapi sayang usulku ini ada jeleknya, aku khawatir si Mumut tidak kebagian. Kadal tua yang berjalan pakai tongkat saja masih lebih cepat dibanding si Mumut .. Hahahaha !" Dalkijo terbahak-bahak dan ingin menang sendiri. Mumut geleng-geleng kepala menyaksikan kesombongan Dalkijo.
"hei, Dalkijo ! Jangan pernah dirimu merasa tinggi hati. Jangan pula menghina kami para semut,"
"loh, aku tidak menghina, Mumut. Bukankah kenyataan bahwa para kadal lebih cepat merayap daripada semut,"
"kalau begitu, aku menantangmu berlomba," ujar si Mumut
"baik, lomba apa itu ?"
"lomba yang berhubungan dengan kecepatan,"
"hahaha ! Tak usah, Mumut. Kau pasti kalah !! Semut yang paling cepat tidak mungkin bisa menandingi kemampuan lari para kadal. Bahkan meskipun kami harus berlari dengan satu kaki, kami sudah pasti menang melawanmu," kadal Dalkijo tersenyum sombong.
Kegaduhan semacam ini ternyata berlangsung lebih lama. Untuk sementara hewan-hewan berhenti mengantre lantaran melihat Dalkijo dan Mumut bersitegang. Sikap Dalkijo yang sombong menjadikan kadal itu tidak berpikir panjang. Otaknya tertutupi kecongkakan.
"hayo, terserah dirimu lomba apa yang kau tawarkan. Aku mengikut saja. Biarkan nanti kura-kura Kurkur yang menjadi juri, sekalian seluruh penghuni hutan menjadi saksi, siapa yang paling hebat dalam urusan kecepatan di antara kita. Kau setuju menjadi juri, kan, Kurkur ?" Dalkijo menoleh ke arah Kurkur dengan congkak.
"baiklah-baiklah, lomba apa yang kau tawarkan, Mut ?" tanya Kurkur tersenyum.     
"lomba ini dilakukan berkelompok, beranggotakan duapuluh peserta. Jadi ada sepuluh kadal dipimpin Dalkijo, dan sepuluh semut dipimpin oleh aku. Kita lomba membawa biji kacang ke suatu tempat secara berkelompok. Siapa yang paling cepat, dia yang menang."
"ha ha ha ! Semudah itu, kah, usulan lombamu, Mut ? para semut pasti kalah. Kau mau sejauh apa kacang itu dibawa ? Ke tepi hutan ?"
"tidak-tidak. Bukan ke tepi hutan. Kalau itu terlalu mudah. Tapi biji kacang itu harus dibawa ke pucuk pohon kelapa. Bagaimana menurutmu ?" Mumut tersenyum cerdas. Kadal Dalkijo tanpa pikir panjang langsung menyetujui. Kesombongan menutupi akal sehatnya.
"kalau sampai Dalkijo kalah, Dalkijo akan meminta maaf kepada seluruh semut di hutan ini. Satu persatu. Berapapun jumlahnya," Dalkijo menepuk-nepuk dadanya dengan sambil tersenyum congkak.
"baik-baik. Aku sudah ditunjuk menjadi juri di antara kalian berdua. Lomba ini sudah disepakati. Dilaksanakan di tengah alun-alun setelah pertunjukan sirkus selesai. Sekarang, masing-masing pihak sila mencari anggota timnya yang terbaik. Siapa yang berhasil membawa biji kacang ke pucuk kelapa pertama kali, akan menjadi pihak yang menang. Maka dengan disaksikan seluruh hewan di hutan ini, maka aku si Kurkur menyatakan perlombaan antara kadal Dalkijo dan si Mumut dilaksanakan secara resmi, dengan semangat persahabatan, sportif tanpa curang, agar tidak terjadi perselisihan sejenisnya di masa depan. Sekarang, silakan kalian berdua bersalaman,” si Kurkur berujar kepada Dalkijo dan Mumut. Kadal dan Semut itu pun lantas bersalaman.
Hari-hari kemudian berlangsung cepat. Kadal Dalkijo dan Mumut berupaya mengumpulkan anggota tim yang terbaik. Dalkijo memilih kadal-kadal tercepat dari seisi penjuru hutan. Tetapi si Mumut memiliki taktik lain. Si Mumut mencari sekumpulan semut yang memiliki kesabaran dan kebersamaan tinggi.
Maka beberapa hari kemudian, tibalah waktu lomba yang disepakati. Alun-alun hutan sangatlah ramai, riuh rendah oleh sorak sorai hewan-hewan yang terkagum-kagum dengan pertunjukan sirkus dari negeri hutan di seberang. Selepas pertunjukan sirkus selesai, segera kura-kura Kurkur berjalan santai ke atas podium.
“wahai, Penghuni Hutan sekalian. Selepas menyaksikan pertunjukan sirkus, mari kita saksikan perlombaan paling akbar antara para kadal melawan para semut. Lomba ini dimaksud dilaksanakan dalam semangat persahabatan, persaudaraan, sesuai dengan kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak.”
Bersorak sorailah hewan-hewan yang berkumpul tumpah ruah. Kelompok kadal yang dipimpin Dalkijo melakukan pemanasan dengan menggerak-gerakkan kaki. Sementara Mumut memimpin para semut mematangkan taktiknya memenangi lomba.
“pelan-pelan .. kita kerjakan dengan sabar, seperti kita biasa membangun sarang,” Mumut berbisik-bisik kepada para semut.
Sementara itu para kadal tersenyum meremehkan sikap kelompok semut. Kadal Dalkijo berteriak keras, “Hayo !! kita bawa kacang kecil itu secepat kilat ke pucuk pohon kelapa !! kalau seekor kadal bisa membawa sendiri, biarlah dilakukan sendiri. Yang lain tinggal menonton dari bawah !!” Dalkijo berteriak pongah sambil menggerak-gerakkan kepalanya, melakukan pemanasan.
“Hayo kalian para kadal dan semut, silakan berkumpul di bawah pohon kelapa !! Perlombaan akan dimulai selepas kalian mendengar suara gajah yang meniup belalainya,”  Kurkur berteriak dengan nyaring. Teriakan Kurkur diikuti sorak sorai hewan-hewan lainnya.
Setelah kelompok kadal dan semut berdiri di bawah pohon kelapa, kura-kura Kurkur menyuruh seekor gajah terbesar meniup belalainya.
PREEETTTTT !!!!
Bersegeralah kadal-kadal dipimpin Dalkijo mengambil sebutir kacang. Demikian pula dengan Mumut dan kelompoknya. Kelompok semut bergerak sabar, mengangkat biji kacang dengan semangat gotong royong. “Hups ! satu-dua-tiga ! “ semut-semut mengangkat perlahan-lahan biji kacang itu dan membawanya merayap hati-hati. Mereka terbiasa bekerja sama mencari makan, ataupun membangun sarang bersama-sama.
Sementara para kadal seperti tidak terbiasa bekerja bersama. Mereka saling ingin menunjukkan kemampuannya sendiri-sendiri. Bahkan mereka saling berebut.
“Hayolah kalian ! jangan berebut !!” Dalkijo marah-marah. “Hayo diangkat bersama-sama ! satu-dua-tiga !” Dalkijo memberi aba-aba. Para kadal kemudian mengangkat dengan serempak. Tetapi saat kacang itu digiring, mulailah mereka saling tarik sesuai kehendak masing-masing.
“Hayo ke kanan !”, “Hoi jangan ke kanan, kiri-kiri !”
Para hewan tertawa terbahak-bahak menyaksikan para kadal yang tidak kompak. Bahkan ketika para semut sudah mulai merayap di batang pohon kelapa, para kadal tetap maju mundur. Dalkijo pusing melihat kelakuan teman-temannya.
“Haduhhh !! sekarang begini .. aba-aba hanya dari aku !! yang lain mengikuti !!” teriak kadal Dalkijo.
Para kadal menyerahkan taktik kepada Dalkijo. Dalkijo menyuruh para kadal mengikuti cara semut mengangkat biji kacang. Awalnya biji kacang bisa diangkat bersama-sama oleh para kadal, menyusul para semut. Tetapi menginjak ke posisi lebih tinggi, para kadal tidak terbiasa melewati pohon yang berdiri tegak. Jadilah, seekor kadal yang terpeleset akan menyeret kadal lain untuk jatuh ke atas tanah.
Sontak para hewan tertawa terbahak-bahak menyaksikan polah para kadal. Para kadal mencoba berkali-kali namun gagal pula berulang-ulang. Para kadal itu seringkali terpeleset akibat licinnya kulit pohon.
Sementara para semut semakin tinggi merayap. Mereka melaju dengan sabar dan hati-hati. Dalkijo yang melihat usaha para semut, panik. Dia tidak pernah membayangkan akan kalah melawan para semut.
“ahhh .. sudah !! kalian semua tidak berguna !!” teriak Dalkijo marah-marah. “sekarang, biar aku sendiri yang memenangkan lomba ini !!” Dalkijo kumat rasa sombongnya.
Setelah menyingkirkan teman-temannya para kadal, Dalkijo menggigit sendiri biji kacang dan mencoba merayap di pohon kelapa. Dalkijo mampu merayap dengan cepat, jauh lebih cepat dari rayapan para semut. Tetapi tubuh kadal Dalkijo terlalu berat. Tangan dan kaki Dalkijo harus berjuang menahan berat tubuhnya. Dalkijo terus merayap. Otot-otot tangan kakinya berasa kesemutan. Dalkijo pun pada akhirnya gagal meneruskan rayapannya. Dalkijo menyerah dan meluncur jatuh dari ketinggian.
Sementara para semut terus merayap. Mereka mampu menuntaskan perlombaan dan keluar sebagai pemenang. Sorak sorailah seisi hutan dengan kemenangan Mumut dan kelompoknya. Mereka tidak menyangka binatang kecil yang merayap lambat mampu memenangkan perlombaan kecepatan melawan kadal yang gesit. Mumut dan kelompoknya kemudian turun dari pohon menemui Dalkijo dan kelompoknya.
“untuk apa kau kemari, Mumut ? untuk mengolok-olokku ?” kadal Dalkijo bersikap marah.
“kau jangan salah sangka, Dalkijo. Aku tidak mengolok-olokmu. Aku datang untuk mengatakan jika kami semua –para semut –memaafkan semua olok-olokanmu tentang binatang kecil yang lambat semacam kami. Kau dan para kadal punya kelebihan, begitu pula dengan kami para semut. Maka mari kita akhiri semua perdebatan ini dengan persaudaraan, bagaimana ?” Mumut mengulurkan tangannya, bersiap bersalaman.
Dalkijo terharu dengan sikap Mumut. Dia hampir menangis.
“aku .. aku .. mengaku kalah, Mumut. Dan aku mengaku salah. Maafkan aku. Aku akan memperbaiki sikapku agar tidak menjadi hewan yang sombong.”
Dalkijo meraih uluran tangan Mumut. Mereka berjabatan erat. Kurkur si kura-kura bertepuk tangan menyaksikan peristiwa indah itu.
“Persahabatan !! persahabatan !! persahabatan !! lupakan permusuhan !! “ teriak Kurkur si kura-kura.
Sorak sorai para hewan membahana. Semua peristiwa berlangsung dengan gembira. Selanjutnya seluruh hewan di dalam hutan akan menjalani kehidupan seperti biasa.
20 Okt 2014
Tol Gempol – Surabaya



  





  

Fabel : Kesombongan Kadal Dalkijo (by Emil WE)


Antrean panjang terjadi di jalan utama di tengah hutan. Hewan-hewan sedang ingin membeli tiket pertunjukan sirkus dari hutan di negeri tetangga. Mereka berdesak-desakan. Antrean para hewan sudah meliuk panjang seperti bentuk tubuh ular raksasa. Tiba-tiba terdengar kegaduhan. Nampaknya, Dalkijo -Si Kadal, sedang bersitegang dengan Mumut -Si Semut.
"hei, Dalkijo, antre, dong ! Jangan main serobot gitu !! tempat itu milikki !!" si Mumut protes sebab antreannya diserobot kadal Dalkijo.
"huh ! aku lelah nunggu kamu. Bisa-bisa baru dapat tiket malam hari gara-gara nunggu kamu merayap. Ini sudah adil, Mumut. Hewan yang lambat harus memberi kesempatan kepada hewan yang lebih cepat,"
"eits ! Tidak bisa ! Semua hewan harus mendapatkan hak yang sama," Mumut protes. "tidak adil membuat pernyataan semacam itu," lanjutnya bersungut-sungut.
Kegaduhan itu berlangsung cukup lama. Hewan-hewan terpecah, sebab di satu sisi mereka mendukung pihak yang menguntungkan diri sendiri. Hewan-hewan yang memiliki kemampuan berjalan cepat mendukung kadal Dalkijo, sementara hewan-hewan kecil nan lambat mendukung semut Mumut. Tiba-tiba di saat Dalkijo dan Mumut bersitegang, Kurkur -Si Kura-kura tertawa terbahak-bahak.
"Hei-hei, para hewan sekalian. Untuk apa kalian bertengkar. Tujuan kita sama, untuk mendapat tiket pertunjukan sirkus. Aku punya ide."
"apa idemu, Kurkur ?" Dalkijo bertanya sambil mengerjap-ngerjap matanya.
"kita bagi saja antrean ini menjadi dua bagian. Hewan-hewan kecil di sisi kanan, kewan-hewan besar di sisi kiri. Biar lebih cepat, lebih aman. Kalian hewan kecil tidak akan terinjak hewan yang besar,"
"berarti aku termasuk hewan kecil, Dong ! Ah, aku tidak setuju ! Aku tidak ingin mengantri bersama hewan-hewan lambat. Bisa-bisa kakiku gemetaran menunggu semut, bekicot, siput, lipan," Dalkijo masih juga protes.
"harusnya tiket sirkus itu ditumpuk di atas batu, kemudian, siapa yang cepat, biar dia mengambil duluan, seperti lomba lari, hehehe .. Tapi sayang usulku ini ada jeleknya, aku khawatir si Mumut tidak kebagian. Kadal tua yang berjalan pakai tongkat saja masih lebih cepat dibanding si Mumut .. Hahahaha !" Dalkijo terbahak-bahak dan ingin menang sendiri. Mumut geleng-geleng kepala menyaksikan kesombongan Dalkijo.
"hei, Dalkijo ! Jangan pernah dirimu merasa tinggi hati. Jangan pula menghina kami para semut,"
"loh, aku tidak menghina, Mumut. Bukankah kenyataan bahwa para kadal lebih cepat merayap daripada semut,"
"kalau begitu, aku menantangmu berlomba," ujar si Mumut
"baik, lomba apa itu ?"
"lomba yang berhubungan dengan kecepatan,"
"hahaha ! Tak usah, Mumut. Kau pasti kalah !! Semut yang paling cepat tidak mungkin bisa menandingi kemampuan lari para kadal. Bahkan meskipun kami harus berlari dengan satu kaki, kami sudah pasti menang melawanmu," kadal Dalkijo tersenyum sombong.
Kegaduhan semacam ini ternyata berlangsung lebih lama. Untuk sementara hewan-hewan berhenti mengantre lantaran melihat Dalkijo dan Mumut bersitegang. Sikap Dalkijo yang sombong menjadikan kadal itu tidak berpikir panjang. Otaknya tertutupi kecongkakan.
"hayo, terserah dirimu lomba apa yang kau tawarkan. Aku mengikut saja. Biarkan nanti kura-kura Kurkur yang menjadi juri, sekalian seluruh penghuni hutan menjadi saksi, siapa yang paling hebat dalam urusan kecepatan di antara kita. Kau setuju menjadi juri, kan, Kurkur ?" Dalkijo menoleh ke arah Kurkur dengan congkak.
"baiklah-baiklah, lomba apa yang kau tawarkan, Mut ?" tanya Kurkur tersenyum.     
"lomba ini dilakukan berkelompok, beranggotakan duapuluh peserta. Jadi ada sepuluh kadal dipimpin Dalkijo, dan sepuluh semut dipimpin oleh aku. Kita lomba membawa biji kacang ke suatu tempat secara berkelompok. Siapa yang paling cepat, dia yang menang."
"ha ha ha ! Semudah itu, kah, usulan lombamu, Mut ? para semut pasti kalah. Kau mau sejauh apa kacang itu dibawa ? Ke tepi hutan ?"
"tidak-tidak. Bukan ke tepi hutan. Kalau itu terlalu mudah. Tapi biji kacang itu harus dibawa ke pucuk pohon kelapa. Bagaimana menurutmu ?" Mumut tersenyum cerdas. Kadal Dalkijo tanpa pikir panjang langsung menyetujui. Kesombongan menutupi akal sehatnya.
"kalau sampai Dalkijo kalah, Dalkijo akan meminta maaf kepada seluruh semut di hutan ini. Satu persatu. Berapapun jumlahnya," Dalkijo menepuk-nepuk dadanya dengan sambil tersenyum congkak.
"baik-baik. Aku sudah ditunjuk menjadi juri di antara kalian berdua. Lomba ini sudah disepakati. Dilaksanakan di tengah alun-alun setelah pertunjukan sirkus selesai. Sekarang, masing-masing pihak sila mencari anggota timnya yang terbaik. Siapa yang berhasil membawa biji kacang ke pucuk kelapa pertama kali, akan menjadi pihak yang menang. Maka dengan disaksikan seluruh hewan di hutan ini, maka aku si Kurkur menyatakan perlombaan antara kadal Dalkijo dan si Mumut dilaksanakan secara resmi, dengan semangat persahabatan, sportif tanpa curang, agar tidak terjadi perselisihan sejenisnya di masa depan. Sekarang, silakan kalian berdua bersalaman,” si Kurkur berujar kepada Dalkijo dan Mumut. Kadal dan Semut itu pun lantas bersalaman.
Hari-hari kemudian berlangsung cepat. Kadal Dalkijo dan Mumut berupaya mengumpulkan anggota tim yang terbaik. Dalkijo memilih kadal-kadal tercepat dari seisi penjuru hutan. Tetapi si Mumut memiliki taktik lain. Si Mumut mencari sekumpulan semut yang memiliki kesabaran dan kebersamaan tinggi.
Maka beberapa hari kemudian, tibalah waktu lomba yang disepakati. Alun-alun hutan sangatlah ramai, riuh rendah oleh sorak sorai hewan-hewan yang terkagum-kagum dengan pertunjukan sirkus dari negeri hutan di seberang. Selepas pertunjukan sirkus selesai, segera kura-kura Kurkur berjalan santai ke atas podium.
“wahai, Penghuni Hutan sekalian. Selepas menyaksikan pertunjukan sirkus, mari kita saksikan perlombaan paling akbar antara para kadal melawan para semut. Lomba ini dimaksud dilaksanakan dalam semangat persahabatan, persaudaraan, sesuai dengan kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak.”
Bersorak sorailah hewan-hewan yang berkumpul tumpah ruah. Kelompok kadal yang dipimpin Dalkijo melakukan pemanasan dengan menggerak-gerakkan kaki. Sementara Mumut memimpin para semut mematangkan taktiknya memenangi lomba.
“pelan-pelan .. kita kerjakan dengan sabar, seperti kita biasa membangun sarang,” Mumut berbisik-bisik kepada para semut.
Sementara itu para kadal tersenyum meremehkan sikap kelompok semut. Kadal Dalkijo berteriak keras, “Hayo !! kita bawa kacang kecil itu secepat kilat ke pucuk pohon kelapa !! kalau seekor kadal bisa membawa sendiri, biarlah dilakukan sendiri. Yang lain tinggal menonton dari bawah !!” Dalkijo berteriak pongah sambil menggerak-gerakkan kepalanya, melakukan pemanasan.
“Hayo kalian para kadal dan semut, silakan berkumpul di bawah pohon kelapa !! Perlombaan akan dimulai selepas kalian mendengar suara gajah yang meniup belalainya,”  Kurkur berteriak dengan nyaring. Teriakan Kurkur diikuti sorak sorai hewan-hewan lainnya.
Setelah kelompok kadal dan semut berdiri di bawah pohon kelapa, kura-kura Kurkur menyuruh seekor gajah terbesar meniup belalainya.
PREEETTTTT !!!!
Bersegeralah kadal-kadal dipimpin Dalkijo mengambil sebutir kacang. Demikian pula dengan Mumut dan kelompoknya. Kelompok semut bergerak sabar, mengangkat biji kacang dengan semangat gotong royong. “Hups ! satu-dua-tiga ! “ semut-semut mengangkat perlahan-lahan biji kacang itu dan membawanya merayap hati-hati. Mereka terbiasa bekerja sama mencari makan, ataupun membangun sarang bersama-sama.
Sementara para kadal seperti tidak terbiasa bekerja bersama. Mereka saling ingin menunjukkan kemampuannya sendiri-sendiri. Bahkan mereka saling berebut.
“Hayolah kalian ! jangan berebut !!” Dalkijo marah-marah. “Hayo diangkat bersama-sama ! satu-dua-tiga !” Dalkijo memberi aba-aba. Para kadal kemudian mengangkat dengan serempak. Tetapi saat kacang itu digiring, mulailah mereka saling tarik sesuai kehendak masing-masing.
“Hayo ke kanan !”, “Hoi jangan ke kanan, kiri-kiri !”
Para hewan tertawa terbahak-bahak menyaksikan para kadal yang tidak kompak. Bahkan ketika para semut sudah mulai merayap di batang pohon kelapa, para kadal tetap maju mundur. Dalkijo pusing melihat kelakuan teman-temannya.
“Haduhhh !! sekarang begini .. aba-aba hanya dari aku !! yang lain mengikuti !!” teriak kadal Dalkijo.
Para kadal menyerahkan taktik kepada Dalkijo. Dalkijo menyuruh para kadal mengikuti cara semut mengangkat biji kacang. Awalnya biji kacang bisa diangkat bersama-sama oleh para kadal, menyusul para semut. Tetapi menginjak ke posisi lebih tinggi, para kadal tidak terbiasa melewati pohon yang berdiri tegak. Jadilah, seekor kadal yang terpeleset akan menyeret kadal lain untuk jatuh ke atas tanah.
Sontak para hewan tertawa terbahak-bahak menyaksikan polah para kadal. Para kadal mencoba berkali-kali namun gagal pula berulang-ulang. Para kadal itu seringkali terpeleset akibat licinnya kulit pohon.
Sementara para semut semakin tinggi merayap. Mereka melaju dengan sabar dan hati-hati. Dalkijo yang melihat usaha para semut, panik. Dia tidak pernah membayangkan akan kalah melawan para semut.
“ahhh .. sudah !! kalian semua tidak berguna !!” teriak Dalkijo marah-marah. “sekarang, biar aku sendiri yang memenangkan lomba ini !!” Dalkijo kumat rasa sombongnya.
Setelah menyingkirkan teman-temannya para kadal, Dalkijo menggigit sendiri biji kacang dan mencoba merayap di pohon kelapa. Dalkijo mampu merayap dengan cepat, jauh lebih cepat dari rayapan para semut. Tetapi tubuh kadal Dalkijo terlalu berat. Tangan dan kaki Dalkijo harus berjuang menahan berat tubuhnya. Dalkijo terus merayap. Otot-otot tangan kakinya berasa kesemutan. Dalkijo pun pada akhirnya gagal meneruskan rayapannya. Dalkijo menyerah dan meluncur jatuh dari ketinggian.
Sementara para semut terus merayap. Mereka mampu menuntaskan perlombaan dan keluar sebagai pemenang. Sorak sorailah seisi hutan dengan kemenangan Mumut dan kelompoknya. Mereka tidak menyangka binatang kecil yang merayap lambat mampu memenangkan perlombaan kecepatan melawan kadal yang gesit. Mumut dan kelompoknya kemudian turun dari pohon menemui Dalkijo dan kelompoknya.
“untuk apa kau kemari, Mumut ? untuk mengolok-olokku ?” kadal Dalkijo bersikap marah.
“kau jangan salah sangka, Dalkijo. Aku tidak mengolok-olokmu. Aku datang untuk mengatakan jika kami semua –para semut –memaafkan semua olok-olokanmu tentang binatang kecil yang lambat semacam kami. Kau dan para kadal punya kelebihan, begitu pula dengan kami para semut. Maka mari kita akhiri semua perdebatan ini dengan persaudaraan, bagaimana ?” Mumut mengulurkan tangannya, bersiap bersalaman.
Dalkijo terharu dengan sikap Mumut. Dia hampir menangis.
“aku .. aku .. mengaku kalah, Mumut. Dan aku mengaku salah. Maafkan aku. Aku akan memperbaiki sikapku agar tidak menjadi hewan yang sombong.”
Dalkijo meraih uluran tangan Mumut. Mereka berjabatan erat. Kurkur si kura-kura bertepuk tangan menyaksikan peristiwa indah itu.
“Persahabatan !! persahabatan !! persahabatan !! lupakan permusuhan !! “ teriak Kurkur si kura-kura.
Sorak sorai para hewan membahana. Semua peristiwa berlangsung dengan gembira. Selanjutnya seluruh hewan di dalam hutan akan menjalani kehidupan seperti biasa.
20 Okt 2014
Tol Gempol – Surabaya



  





  

Saturday, September 20, 2014

Novel Petualangan : 3156 Mdpl (Bagian 18)



Langkah kaki yang berbeda arah menggurat jejak di kala fajar. Jalan setapak yang porak poranda, embun yang membasahi dedaunan,  hutan beserta hawa pagi yang membeku, peristiwa besar yang baru terjadi tak berarti apa-apa. Matahari tetap beranjak terbit. Rembulan bintang lekas berpulang. Kabut-kabut tebal mengendap di ceruk-ceruk jurang lembah yang tak terjamah kehangatan fajar.
Tiga puluh menit kemudian, matahari naik sepenggalan. Kegelapan hanya tersisa di dasar jurang, ceruk-ceruk lembah, dan tebing-tebing yang dihimpit bebukitan.
Parmin, Narto, dan Jarwo –melangkah setengah berlari. Pijak kaki mereka cekatan menapaki medan pendakian. Kayu pinus penumpu menderit menahan beban. Tubuh Dita memantul terayun-ayun. Ketiga penambang belerang itu butuh kurang dari dua jam mengevakuasi Dita menuju pondok penambang.
Di langit, matahari pagi telah sempurna mengusir gelap. Posisinya naik sepenggalan, tetapi, udara tetap dingin. Embun-embun yang memantul sinar matahari berkilauan seperti permata. Setibanya rombongan di pondok penambang, para penambang yang tengah berkumpul di depan gubug tersita perhatiannya. Mereka lekas berdiri. Beberapa berlari menyongsong. Pertanyaan gugup bersahut-sahutan.
“siapa dia, Min ?”, “kau temukan dimana ?”, “pasti korban badai,”
Lekas dari mereka mengambil alih batang penandu dari pundak Narto dan Parmin.
“bukan dari kita, dia pendaki gunung,” ucap Narto menghela nafas lelah.
“Ya. Da terjebak di Jurang Gede. Pacarnya yang membawa turun berpapasan dengan kami sebelum padang edelweis,” Jarwo menguatkan
“mana pacarnya ?” tanya yang lain
“kembali ke atas. Menyelamatkan satu lagi di dasar Jurang Gede,”
“dimana ?”
“Jurang Gede. Kata pacar gadis ini, Jurang Gede sudah runtuh. Tak bisa dilewati. “
Sementara dua penambang yang menandu Dita meletakkan Dita tiga meter dari perapian. Kedatangan Dita seketika disambut kerumunan belasan penambang. Jarwo, Narto, dan Parmin diberondong pertanyaan bertubi-tubi.
“mana Kang Jiman, Wo ?”
“kang Jiman menemani pacar gadis ini,” jawab Jarwo mengatur nafas.
“sekarang begini rencananya .. kuminta sepuluh orang dari kita menyusul Kang Jiman ke Jurang Gede. Sisanya membantu membawa gadis ini menuju desa terakhir. Disana kita bisa minta bantuan dokter di bawah.”
“dokter Nanda yang di puskesmas itu maksudmu ?”
 “Ya – ya. Dokter Nanda, siapa lagi, “
“eh-eh ! dekatkan gadis dengan perapian. Biar dia hangat,” celetuk Narto setengah berteriak. Tubuh Dita lantas diangkat dan diletakkan lebih dekat dengan perapian.
“bagaimana kondisi gadis itu, To ?” tanya seorang penambang kepada Narto
 “parah. Kondisinya parah. Sudah hampir tak sadar. Untuk minum saja susah. Kalau dipaksa bisa-bisa tersedak. Peristiwa tujuh tahun lalu terulang. Meskipun jumlah korban tak sebanyak yang dulu,” terang Narto. Ucapan Narto membuat seluruh penambang bermuka keruh.
“Min, di pondokku masih ada madu sebotol, ambillah. Kita oleskan di bibirnya sambil menunggu badannya hangat,”  celetuk Jarwo sambil memijit-mijit perjelangan tangan. Parmin lekas bangkit menuruti kata-kata Jarwo.
Dita terlentang sejarak 1.5 meter dari perapian. Pancaran perapian perlahan-lahan mengembalikan panas tubuhnya. Kesadaran Dita berangsur-angsur terbit kembali. Gadis itu bisa merasakan manisnya madu di bibirnya. Dita mengerang sesekali. Air matanya kembali menggenang di kelopak mata.
“bagaimana, Wo ? kita turun sekarang ?” Parmin menatap Jarwo.
“lima menit lagi, biat tubuh gadis itu hangat kembali,”
“kau yakin dia bisa selamat ?’ tanya Parmin
“ya. Aku yakin. Memangnya kenapa ?”
 “entahlah. Firasatku seperti membawa orang mati saja. Aku teringat tujuh tahun lalu saat menurunkan mayat dari Jurang Gede,”
Jarwo menatap Parmin seksama. Parmin geleng-geleng kepala.
“aku heran, apa yang ada di pikiran mereka. Memilih jauh dari kenyamanan. Dingin, jurang, binatang buas, tak jarang pendaki-pendaki ini malah mati. Aneh benar pikiran mereka itu,” Parmin mengusap muka keriputnya berkali-kali. Jarwo menelan ludah.
“kau bisa bayangkan keluarga gadis itu ?” ucap Parmin. “pasti sangat terpukul seandainya dia sampai mati,” lanjut Parmin, bersedih.
“ya .. ya .. harusnya mereka waspada. Kalau dikejauhan langit gelap, harusnya cepat- turun, jangan memaksakan diri ke atas,” sambung Jarwo
“tapi gunung kita ini lain dari yang lain, Wo. Kau ingat tujuh tahu lalu ? kawan kita banyak yang mati,”
“kalau itu lain, Min. Penguasa Gunung turut campur.”
“ah, aku tak percaya ada lelembut turut campur,” Parmin geleng-geleng kepala.
“tapi itulah yang terjadi. Kang Jiman sendiri yang bilang. Dia juga nyaris mati waktu itu ? andai saja .. ah,”
“dia cerita apa, Wo ?”
Pertanyaan Parmin membuat Jarwo menarik nafas dalam-dalam. Menelan ludah. Mencari kata-kata.
“kejadian tujuh tahun lalu sangat mengerikan. Kau tentu ingat berapa korbannya. Dua puluh orang terjebak di puncak gunung,” kenang Jarwo. ‘lima belas pendaki, sisanya penambang belerang termasuk Kang Jiman. Tujuh pendaki mati. Sisanya digotong turun gunung. Kejadian itu memaksa seluruh penambang dilibatkan menggotong para korban,” Jarwo bernafas panjang.
“bagaimana dengan penambang yang terjebak ? maksudku cerita misterius dari Kang Jiman,”
“Begini ..” Jarwo mengusap wajahnya, “kau tentu ingat korban dari kita dua orang. Satu mati karena tertimpa batu besar. Satu lagi mati tersambar petir,”
“ya – ya. Aku ingat,” sahut Parmin
“menurut Kang Jiman, sebenarnya tubuh kita sudah terlatih di gunung. Meskipun angin kencang datang, kita bisa bertahan dengan semua yang ada di hutan. Tapi waktu itu kondisinya lain. Sebenarnya mereka sudah diperingatkan jangan meneruskan perjalanan,”
“siapa yang memperingatkan, Wo ?”
“kalau kau tanya siapa yang memperingatkan, aku sendiri tak bisa menjawab. Kata Kang Jiman, yang memperingatkan bertampang kakek-kakek bertubuh kerempeng, berpunggung bongkok, berjenggot panjang semata kaki, membawa tongkat bambu sebesar kelingking. Dia mampu berjalan cepat dengan kondisi renta semacam itu,“
“hmmm ... aku pernah mendengar cerita semacam itu, tapi aku memilih tak percaya,” ujar Parmin, tercekat. “dimana mereka bertemu kakek itu ?”
“di Jurang Gede. Kakek itu melarang rombongan ke kawah. Tapi mereka memilih  menolak,”
“menolak ? kenapa ?”
“kata Kang Jiman, kawan kita yang mati itu terlilit utang. Keduanya kalah judi, jadi memaksa naik buat bayar,”
“aku masih tak percaya cerita ini. Puluhan tahun menambang, aku tak pernah melihat sosok yang aneh-aneh,” celetuk Narto
“Tak melihat bukan berati tak ada, To,” sahut Jarwo. Parmin manggut-manggut menguatkan.
“Kang Jiman sendiri yang melihatnya saat batu besar menggelinding menimpa almarhum Martono. Kakek itu cangkruk di dahan pohon. Dia seperti terbang,”
“ah, bisa saja Kang Jiman ngigau. Seperti orang takut, bayangannya suka macam-macam,” Narto menyeletuk lagi
“ kau ini, To !” protes Jarwo
“sudahlah. Jangan terlalu percaya takayul. Coba tanya semua orang disini, apa pernah emreka melihat kakek tua yang diceritakan Kang Jiman ? kau sendiri sudah pernah melihat ? “ ujar Narto terkesan menang.
“Ya, sudah belasan tahun disini, sudah bukan lagi hitungan hari, dan kita tidak pernah melihat yang aneh-aneh,” Parmin menguatkan
Sementara Jarwo diam. Antara percaya dan tidak percaya.
“takayul membuat otak kita mati. Yang penting kita hati-hati, jangan lupa berdoa,” Parmin menandaskan.
Siang terasa sunyi. Suara-suara serasa diterbangkan angin, tak diijinkan tinggal terlalu lama. Yang tersisa hanya desau-desau angin di pucuk cemara.
Sementara asap perapian berkepul-kepul lurus ke langit. Meninggalkan gubug-gubug yang porak-poranda. Nampak tujuh penambang mengumpulkan sisa-sisa gubug yang bisa diselamatkan, membakar yang tak bisa dimanfaatkan. Salah satu dari mereka mendekati Jarwo, Narto, dan Jiman.
“bagaimana, Wo ? apa kita turun sekarang ?” ujarnya sambil membetulkan sarung tangan
:ya, kita berangkat sekarang. Berapa orang ?” tanya Jarwo.
“dua belas turun, sisanya naik.“

“baiklah.” Jarwo manggut-manggut.

Novel Petualangan : 3156 Mdpl (Bagian 18)



Langkah kaki yang berbeda arah menggurat jejak di kala fajar. Jalan setapak yang porak poranda, embun yang membasahi dedaunan,  hutan beserta hawa pagi yang membeku, peristiwa besar yang baru terjadi tak berarti apa-apa. Matahari tetap beranjak terbit. Rembulan bintang lekas berpulang. Kabut-kabut tebal mengendap di ceruk-ceruk jurang lembah yang tak terjamah kehangatan fajar.
Tiga puluh menit kemudian, matahari naik sepenggalan. Kegelapan hanya tersisa di dasar jurang, ceruk-ceruk lembah, dan tebing-tebing yang dihimpit bebukitan.
Parmin, Narto, dan Jarwo –melangkah setengah berlari. Pijak kaki mereka cekatan menapaki medan pendakian. Kayu pinus penumpu menderit menahan beban. Tubuh Dita memantul terayun-ayun. Ketiga penambang belerang itu butuh kurang dari dua jam mengevakuasi Dita menuju pondok penambang.
Di langit, matahari pagi telah sempurna mengusir gelap. Posisinya naik sepenggalan, tetapi, udara tetap dingin. Embun-embun yang memantul sinar matahari berkilauan seperti permata. Setibanya rombongan di pondok penambang, para penambang yang tengah berkumpul di depan gubug tersita perhatiannya. Mereka lekas berdiri. Beberapa berlari menyongsong. Pertanyaan gugup bersahut-sahutan.
“siapa dia, Min ?”, “kau temukan dimana ?”, “pasti korban badai,”
Lekas dari mereka mengambil alih batang penandu dari pundak Narto dan Parmin.
“bukan dari kita, dia pendaki gunung,” ucap Narto menghela nafas lelah.
“Ya. Da terjebak di Jurang Gede. Pacarnya yang membawa turun berpapasan dengan kami sebelum padang edelweis,” Jarwo menguatkan
“mana pacarnya ?” tanya yang lain
“kembali ke atas. Menyelamatkan satu lagi di dasar Jurang Gede,”
“dimana ?”
“Jurang Gede. Kata pacar gadis ini, Jurang Gede sudah runtuh. Tak bisa dilewati. “
Sementara dua penambang yang menandu Dita meletakkan Dita tiga meter dari perapian. Kedatangan Dita seketika disambut kerumunan belasan penambang. Jarwo, Narto, dan Parmin diberondong pertanyaan bertubi-tubi.
“mana Kang Jiman, Wo ?”
“kang Jiman menemani pacar gadis ini,” jawab Jarwo mengatur nafas.
“sekarang begini rencananya .. kuminta sepuluh orang dari kita menyusul Kang Jiman ke Jurang Gede. Sisanya membantu membawa gadis ini menuju desa terakhir. Disana kita bisa minta bantuan dokter di bawah.”
“dokter Nanda yang di puskesmas itu maksudmu ?”
 “Ya – ya. Dokter Nanda, siapa lagi, “
“eh-eh ! dekatkan gadis dengan perapian. Biar dia hangat,” celetuk Narto setengah berteriak. Tubuh Dita lantas diangkat dan diletakkan lebih dekat dengan perapian.
“bagaimana kondisi gadis itu, To ?” tanya seorang penambang kepada Narto
 “parah. Kondisinya parah. Sudah hampir tak sadar. Untuk minum saja susah. Kalau dipaksa bisa-bisa tersedak. Peristiwa tujuh tahun lalu terulang. Meskipun jumlah korban tak sebanyak yang dulu,” terang Narto. Ucapan Narto membuat seluruh penambang bermuka keruh.
“Min, di pondokku masih ada madu sebotol, ambillah. Kita oleskan di bibirnya sambil menunggu badannya hangat,”  celetuk Jarwo sambil memijit-mijit perjelangan tangan. Parmin lekas bangkit menuruti kata-kata Jarwo.
Dita terlentang sejarak 1.5 meter dari perapian. Pancaran perapian perlahan-lahan mengembalikan panas tubuhnya. Kesadaran Dita berangsur-angsur terbit kembali. Gadis itu bisa merasakan manisnya madu di bibirnya. Dita mengerang sesekali. Air matanya kembali menggenang di kelopak mata.
“bagaimana, Wo ? kita turun sekarang ?” Parmin menatap Jarwo.
“lima menit lagi, biat tubuh gadis itu hangat kembali,”
“kau yakin dia bisa selamat ?’ tanya Parmin
“ya. Aku yakin. Memangnya kenapa ?”
 “entahlah. Firasatku seperti membawa orang mati saja. Aku teringat tujuh tahun lalu saat menurunkan mayat dari Jurang Gede,”
Jarwo menatap Parmin seksama. Parmin geleng-geleng kepala.
“aku heran, apa yang ada di pikiran mereka. Memilih jauh dari kenyamanan. Dingin, jurang, binatang buas, tak jarang pendaki-pendaki ini malah mati. Aneh benar pikiran mereka itu,” Parmin mengusap muka keriputnya berkali-kali. Jarwo menelan ludah.
“kau bisa bayangkan keluarga gadis itu ?” ucap Parmin. “pasti sangat terpukul seandainya dia sampai mati,” lanjut Parmin, bersedih.
“ya .. ya .. harusnya mereka waspada. Kalau dikejauhan langit gelap, harusnya cepat- turun, jangan memaksakan diri ke atas,” sambung Jarwo
“tapi gunung kita ini lain dari yang lain, Wo. Kau ingat tujuh tahu lalu ? kawan kita banyak yang mati,”
“kalau itu lain, Min. Penguasa Gunung turut campur.”
“ah, aku tak percaya ada lelembut turut campur,” Parmin geleng-geleng kepala.
“tapi itulah yang terjadi. Kang Jiman sendiri yang bilang. Dia juga nyaris mati waktu itu ? andai saja .. ah,”
“dia cerita apa, Wo ?”
Pertanyaan Parmin membuat Jarwo menarik nafas dalam-dalam. Menelan ludah. Mencari kata-kata.
“kejadian tujuh tahun lalu sangat mengerikan. Kau tentu ingat berapa korbannya. Dua puluh orang terjebak di puncak gunung,” kenang Jarwo. ‘lima belas pendaki, sisanya penambang belerang termasuk Kang Jiman. Tujuh pendaki mati. Sisanya digotong turun gunung. Kejadian itu memaksa seluruh penambang dilibatkan menggotong para korban,” Jarwo bernafas panjang.
“bagaimana dengan penambang yang terjebak ? maksudku cerita misterius dari Kang Jiman,”
“Begini ..” Jarwo mengusap wajahnya, “kau tentu ingat korban dari kita dua orang. Satu mati karena tertimpa batu besar. Satu lagi mati tersambar petir,”
“ya – ya. Aku ingat,” sahut Parmin
“menurut Kang Jiman, sebenarnya tubuh kita sudah terlatih di gunung. Meskipun angin kencang datang, kita bisa bertahan dengan semua yang ada di hutan. Tapi waktu itu kondisinya lain. Sebenarnya mereka sudah diperingatkan jangan meneruskan perjalanan,”
“siapa yang memperingatkan, Wo ?”
“kalau kau tanya siapa yang memperingatkan, aku sendiri tak bisa menjawab. Kata Kang Jiman, yang memperingatkan bertampang kakek-kakek bertubuh kerempeng, berpunggung bongkok, berjenggot panjang semata kaki, membawa tongkat bambu sebesar kelingking. Dia mampu berjalan cepat dengan kondisi renta semacam itu,“
“hmmm ... aku pernah mendengar cerita semacam itu, tapi aku memilih tak percaya,” ujar Parmin, tercekat. “dimana mereka bertemu kakek itu ?”
“di Jurang Gede. Kakek itu melarang rombongan ke kawah. Tapi mereka memilih  menolak,”
“menolak ? kenapa ?”
“kata Kang Jiman, kawan kita yang mati itu terlilit utang. Keduanya kalah judi, jadi memaksa naik buat bayar,”
“aku masih tak percaya cerita ini. Puluhan tahun menambang, aku tak pernah melihat sosok yang aneh-aneh,” celetuk Narto
“Tak melihat bukan berati tak ada, To,” sahut Jarwo. Parmin manggut-manggut menguatkan.
“Kang Jiman sendiri yang melihatnya saat batu besar menggelinding menimpa almarhum Martono. Kakek itu cangkruk di dahan pohon. Dia seperti terbang,”
“ah, bisa saja Kang Jiman ngigau. Seperti orang takut, bayangannya suka macam-macam,” Narto menyeletuk lagi
“ kau ini, To !” protes Jarwo
“sudahlah. Jangan terlalu percaya takayul. Coba tanya semua orang disini, apa pernah emreka melihat kakek tua yang diceritakan Kang Jiman ? kau sendiri sudah pernah melihat ? “ ujar Narto terkesan menang.
“Ya, sudah belasan tahun disini, sudah bukan lagi hitungan hari, dan kita tidak pernah melihat yang aneh-aneh,” Parmin menguatkan
Sementara Jarwo diam. Antara percaya dan tidak percaya.
“takayul membuat otak kita mati. Yang penting kita hati-hati, jangan lupa berdoa,” Parmin menandaskan.
Siang terasa sunyi. Suara-suara serasa diterbangkan angin, tak diijinkan tinggal terlalu lama. Yang tersisa hanya desau-desau angin di pucuk cemara.
Sementara asap perapian berkepul-kepul lurus ke langit. Meninggalkan gubug-gubug yang porak-poranda. Nampak tujuh penambang mengumpulkan sisa-sisa gubug yang bisa diselamatkan, membakar yang tak bisa dimanfaatkan. Salah satu dari mereka mendekati Jarwo, Narto, dan Jiman.
“bagaimana, Wo ? apa kita turun sekarang ?” ujarnya sambil membetulkan sarung tangan
:ya, kita berangkat sekarang. Berapa orang ?” tanya Jarwo.
“dua belas turun, sisanya naik.“

“baiklah.” Jarwo manggut-manggut.